Beranda / Internasional / Divisi Lintas Udara Ke-82, Pasukan ”Elite” Pembuka Jalan sejak Perang Parit

Divisi Lintas Udara Ke-82, Pasukan ”Elite” Pembuka Jalan sejak Perang Parit

Pelita NEWS, MK Online Com-Nama Divisi Lintas Udara Ke-82 atau 82nd Airborne Division kembali muncul ketika Amerika Serikat menimbang pengerahan tambahan pasukan ke Timur Tengah. Selama lebih dari 105 tahun, kemunculan nama ini kerap menjadi pesan simbolis bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan opsi operasi darat.

 

Divisi Lintas Udara Ke-82 dikenal sebagai pasukan pembuka jalan bagi pasukan lain di medan tempur. Keunggulannya pada kemampuan bergerak dalam 18 jam ke bagian mana pun di dunia sejak perintah awal.

 

Meski kabar sudah santer, Gedung Putih belum memberi konfirmasi. ”Seperti yang telah kami katakan, Presiden Trump selalu memiliki semua opsi militer yang tersedia,” kata Anna Kelly, juru bicara Gedung Putih, Rabu (25/3/2026).Kabar pengerahan divisi ini diikuti persiapan Iran. Kantor berita Iran, Tasnim, Kamis (26/3/2026), memberitakan, lebih dari satu juta kombatan Iran telah dimobilisasi untuk menghadapi kemungkinan konfrontasi darat dengan pasukan AS di tanah mereka.

 

Namun, jumlah pasukan dari Divisi Lintas Udara Ke-82 yang akan dikirim ke Timur Tengah masih simpang siur, berkisar 1.000-4.000 personel. Mengutip sumber tanpa nama, media AS, The Washington Post, melaporkan, sekitar 2.000 penerjun dari Brigade Tempur Ke-1 dan unsur markas besar akan bergerak ke Timur Tengah.Divisi ini diberitakan mendadak keluar dari latihan militer di Fort Polk, Louisiana, pada awal Maret 2026. Banyak personel yang disiapkan berasal dari Pasukan Respons Cepat. Pengerahan mencakup dua batalyon infanteri dan satu unit markas dari divisi yang kini dipimpin Mayor Jenderal Brandon Tegtmeier.

 

Bermarkas besar di Fort Bragg, North Carolina, Divisi Lintas Udara 82 merupakan formasi tempur reguler di Angkatan Darat AS. Namun, tingkat kesiapan, jenis misi, dan sejarah penugasannya menempatkan unit ini di lapis terdepan manakala Washington perlu merespons krisis dengan cepat.

 

Dalam 18 jam setelah perintah, tugas mereka mencakup merebut lapangan udara dan infrastruktur penting, memperkuat kedutaan AS, dan mendukung evakuasi darurat. Kemampuan khusus itu membuat Divisi 82 kerap disebut sebagai pasukan elite meskipun mereka bukan pasukan khusus seperti Delta Force atau Navy SEALs.Sejarah

Satuan itu dibentuk pada 5 Agustus 1917 di Camp Gordon, Georgia. Saat itu, AS baru masuk ke Perang Dunia I. Mereka dibentuk sebagai pasukan darat. Saat itu, Angkatan Darat AS belum memiliki kemampuan lintas udara.

 

Personel awalnya datang dari seluruh 48 negara bagian AS saat itu. Oleh sebab itu, mereka dijuluki pasukan ”All American” yang kemudian menjadi dasar lambang ”AA” di pundak mereka.

 

Reputasi satuan ini sudah terbentuk sejak perang parit di Eropa. Dalam seri siniar sejarah divisi yang diterbitkan Army pada 2017, Letnan Kolonel Joe Buccino dari kantor humas Divisi Lintas Udara 82 saat itu mengatakan, satuan ini mula-mula dibentuk untuk ikut bertempur dalam Perang Dunia I. Ia menyebut dua pertempuran besar yang paling menonjol adalah St Mihiel dan Meuse-Argonne di Perancis timur laut. Di sana, mereka terlibat pertempuran parit yang dikenal mematikan dan brutal.Pernah menjadi cadangan selama puluhan tahun, satuan ini diaktifkan lagi setelah Jepang menyerang Pearl Harbor pada Desember 1941. Saat itu, Sekutu mencari cara baru untuk menembus pertahanan lawan. Momen itu menjadi awal konsep operasi lintas udara militer AS. Sekutu memperkenalkan konsep pengepungan vertikal, yakni menerjunkan pasukan langsung ke dalam pertahanan musuh. Fungsinya untuk menciptakan kejutan dan membuka jalan bagi serangan utama.Di bawah Mayor Jenderal Matthew B Ridgway, komandan divisi saat itu, satuan ini dinilai paling siap menjalani perubahan besar tersebut. Maka, pada 15 Agustus 1942, Divisi Infanteri Ke-82 (82nd Infantry Division) resmi diubah menjadi Divisi Lintas Udara Ke-82. Sejak saat itu, mereka menjadi divisi airborne pertama dalam Angkatan Darat AS.

 

Divisi yang semula disiapkan untuk tempur darat harus direorganisasi total. Bagi banyak prajurit, perubahan itu juga berarti menghadapi ketakutan baru. Pada masa itu, penerjunan masih sangat baru. Banyak prajurit belum pernah naik pesawat, apalagi melompat dari dalamnya ke daerah tempur.

 

Italia menjadi ujian pertama mereka. Divisi ini memimpin serbuan udara pertama dalam sejarah Angkatan Darat AS. Operasi ke Pulau Sisilia yang disebut Operasi Husky itu berlangsung pada 9-10 Juli 1943 malam.

 

Namun, operasi itu kacau. Angin kencang membuat penerjunan buyar. Hanya sekitar separuh pasukan yang mendarat di titik yang ditetapkan. Meski tercerai-berai, para penerjun itu tetap menjalankan perintah. Mereka mengganggu patroli Jerman dan Italia, memotong komunikasi, dan memaksa lawan mengalihkan sebagian kekuatannya.

 

Operasi itu juga merekam kesalahan fatal. Pesawat-pesawat pengangkut AS salah dikenali oleh pertahanan udara Sekutu sendiri. Sebanyak 33 pesawat C-47 AS ditembak jatuh oleh sekutu. Lebih dari 300 penerjun tewas atau hilang.

 

Dari rangkaian pertempuran di Italia itu pula Resimen Infanteri Penerjun Payung Ke-504 dari Divisi 82 kemudian memperoleh julukan ”setan-setan bercelana baggy” (the devils in baggy pants). Julukan itu muncul saat resimen tersebut bertempur di Anzio, Italia, pada Januari 1944.

 

Nama itu pertama kali ditemukan dalam catatan harian seorang perwira Jerman. Ia menggambarkan penerjun AS dengan celana terjun longgar yang mungkin, bagi perwira Jerman itu, mirip setan. Julukan itu justru terus dipakai untuk Brigade Tempur Ke-1 menjadi Brigade Setan.Meski tak mulus, operasi di Sisilia menjadi batu loncatan yang membentuk doktrin lintas udara AS pada perang-perang sesudahnya. Beberapa bulan kemudian, divisi ini diterjunkan ke salah satu momen perang paling terkenal dalam sejarah militer modern, yakni D-Day di Normandia melawan Nazi Jerman. Pada malam sebelum invasi 6 Juni 1944, Divisi Lintas Udara Ke-82 bersama Divisi Lintas Udara Ke-101 diterjunkan di dekat Sainte-Mere-Eglise dan Carentan.

 

Tugas mereka merebut persimpangan jalan dan jalur keluar pantai. Sejarah resmi militer AS mengisahkan Batalyon 3, Infanteri Ke-505 (3rd Battalion, 505th Infantry) dari divisi ini berhasil merebut Sainte-Mere-Eglise dan memutus kabel komunikasi utama Jerman ke Cherbourg.

 

Namun, seperti di Sisilia, operasi itu juga penuh kekacauan. Banyak penerjun mendarat jauh dari sasaran. Sebagian tenggelam di daerah rawa yang tergenang. Sebagian lain jatuh tepat di tengah posisi Jerman lalu tewas atau ditangkap.

 

Menjelang tengah hari, sekitar 4.000 personel divisi ini belum diketahui nasibnya. Sebanyak 60 persen perlengkapan tidak sampai ke tujuan. Meski kacau, mereka tetap berhasil membantu membuka jalan bagi Korps VII.

 

Sesudah Normandia, divisi ini ikut dalam Operasi Market Garden di Belanda. Namun, pasukan lintas udara Sekutu gagal mencapai sasaran strategis utamanya di Arnhem. Kendati banyak kekacauan di awal, peran mereka di Perang Dunia II mengukuhkan Divisi Lintas Udara Ke-82 sebagai tulang punggung pasukan airborne Angkatan Darat AS.Jejak perang modern

Dalam era modern, Divisi Lintas Udara Ke-82 berulang kali diturunkan. Pengerahan atau penarikan mereka kerap dimaknai sebagai pesan simbolis dari Washington. Pesan itu, mulai dari awal operasi militer besar hingga AS yang melepaskan keberadaan di satu negara.

 

Menurut dokumen sejarah resmi divisi yang disusun Kapten Darren M Cinatl pada 1 Februari 2022, divisi ini membuka Operasi Perisai Gurun (Operation Desert Shield) setelah Irak menginvasi Kuwait pada Agustus 1990. Mereka juga garda depan Operasi Power Pack di Republik Dominika pada 1965, Urgent Fury di Grenada pada 1983, dan Just Cause di Panama pada 1989.

 

Setelah 1990, pasukan ini rutin turun di beragam operasi militer besar AS, antara lain Operasi Perisai Gurun pada 1990 dan Badai Gurun pada 1991 di Teluk, Kebebasan Irak pada 2003, serta pengamanan Bandara Kabul saat evakuasi di Afghanistan pada 2021.

 

Salah satu momen ikonik, Komandan Divisi Lintas Udara Ke-82 saat itu, Mayor Jenderal Christopher T Donahue, menjadi prajurit AS terakhir yang meninggalkan Afghanistan. Ia terlihat dalam warna hijau khas teropong penglihatan malam. Foto kepergian Donahue ini menjadi simbol akhir keberadaan AS di Afghanistan. Sejarah panjang Divisi Lintas Udara Ke-82 kini terekam di Museum Peringatan Perang di Fort Bragg, North Carolina.

 

Pada era perang pesawat nirawak dan kecerdasan buatan sekarang, tantangan mereka dinilai lebih berat. Lembaga riset nirlaba RAND Corporation menilai, pasukan ringan seperti mereka lebih mudah terdeteksi dan lebih rentan diserang. Jika jadi dikirim, Iran akan menjadi ujian selanjutnya. (BENN)