Pelita NEWS, MK Online Com-Pemerintahan Trump berencana melepas 172 juta barel minyak dari cadangan darurat Amerika Serikat (AS). Langkah ini merupakan bagian dari upaya terkoordinasi negara-negara di seluruh dunia untuk menekan lonjakan harga minyak mentah dan bahan bakar di tengah berkecamuknya perang dengan Iran.
Menteri Energi AS Chris Wright dalam pernyataan resminya pada hari Rabu (11/3), menyebutkan bahwa proses pelepasan Cadangan Minyak Strategis (SPR) ini akan memakan waktu sekitar 120 hari hingga tersalurkan sepenuhnya. Aksi ini merupakan bagian dari rencana besar negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) untuk menyuntikkan total 400 juta barel minyak ke pasar global.
“Langkah ini bertujuan untuk menyokong kebutuhan dunia selama pasokan terhambat oleh Iran, namun pada akhirnya militer Amerika Serikat yang akan menang,” tegas Wright saat diwawancarai Fox News. “Kami berharap dalam beberapa minggu ke depan, lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan mulai kembali normal.”
Harga minyak mentah, bensin, diesel, hingga bahan bakar jet telah meroket tajam sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Perang tersebut menyebabkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz terhenti total. Padahal, jalur krusial ini merupakan rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Saat ini, Cadangan Minyak Strategis AS berisi sekitar 415 juta barel, atau sekitar 60% dari kapasitas totalnya. Penurunan volume ini terjadi setelah serangkaian pelepasan cadangan oleh pemerintahan Biden sebelumnya, termasuk penjualan rekor 180 juta barel untuk menurunkan harga bensin setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022—langkah yang sempat dikritik tajam oleh Trump dan politisi Republik lainnya.
Meskipun Donald Trump telah berjanji untuk mengisi kembali cadangan tersebut, situasi darurat saat ini memaksa pemerintah mengambil arah sebaliknya. SPR sendiri dibentuk setelah embargo minyak Arab pada tahun 1970-an, dengan fasilitas penyimpanan di gua-gua garam sepanjang pesisir Teluk AS yang memiliki kapasitas maksimal sekitar 713,5 juta barel.
Harga kontrak berjangka minyak mentah AS justru melonjak hingga 4,1% setelah pengumuman tersebut. Para analis memperkirakan tren kenaikan akan terus berlanjut mengingat besarnya guncangan pasokan global akibat konflik ini.
Lembaga konsultan ClearView Energy Partners mencatat bahwa pelepasan 400 juta barel oleh IEA merupakan “pengakuan resmi bahwa krisis Hormuz telah menjadi sangat serius sehingga negara-negara industri harus mencairkan sepertiga dari cadangan minyak mereka.”
“Masih jauh dari jelas kapan selat tersebut dapat dibuka kembali; baik ranjau laut maupun senjata anti-kapal masih dapat menimbulkan ancaman signifikan,” tulis firma konsultan yang berbasis di Washington tersebut.
Keputusan pelepasan cadangan ini diambil saat Trump menghadapi tekanan politik besar untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar. Pemilu paruh waktu pada November mendatang akan sangat bergantung pada persepsi masyarakat Amerika mengenai daya beli, di mana beberapa jajak pendapat menunjukkan tingkat kepuasan publik yang rendah terhadap penanganan ekonomi oleh Trump.
Secara teori, SPR memiliki kapasitas untuk melepas sekitar 4,4 juta barel per hari. Dibutuhkan waktu 13 hari bagi minyak dari sistem tersebut untuk mencapai pasar terbuka setelah Trump memerintahkan penjualan.
Namun, analisis Departemen Energi pada 2016 menyebutkan kapasitas riil pelepasan cadangan kemungkinan terbatas pada angka 1,4 juta hingga 2,1 juta barel per hari. Sebagai perbandingan, saat pelepasan cadangan tahun 2022 lalu, volume yang tersalurkan tidak pernah melebihi 1,1 juta barel per hari.
(BENN)









