Beranda / Sosial / SMT PENERBANGAN 73 TAHUN: REUNI LINTAS GENERASI UNGKAP KRISIS GURU DIRGANTARA, MASA DEPAN PENDIDIKAN PENERBANGAN DIPERTANYAKAN

SMT PENERBANGAN 73 TAHUN: REUNI LINTAS GENERASI UNGKAP KRISIS GURU DIRGANTARA, MASA DEPAN PENDIDIKAN PENERBANGAN DIPERTANYAKAN

Pelita NEWS, MK Online Com

Dari Hanggar Kemayoran 1953 menuju Era AI, Drone dan Urban Air Mobility, Alumni Mendesak Kembalinya Tradisi Pendidikan Berbasis Keilmuan Kedirgantaraan

Oleh : Achmad Fadillah
Ketua Umum DPP Himpunan Mandala Perkasa

Minggu, 4 Oktober 2026.
Reuni SMT Penerbangan lintas generasi yang berlangsung Sabtu, 3 Oktober 2026 di Paviliun Teuku Cik Ditiro No. 84, Menteng, Jakarta Pusat, tidak sekadar menjadi ruang temu para alumni untuk mengenang masa sekolah. Di tengah percakapan antargenerasi tersebut muncul sebuah fenomena yang dinilai perlu mendapatkan perhatian serius: perubahan komposisi tenaga pengajar dan semakin jauhnya sebagian proses pembelajaran dari disiplin keilmuan kedirgantaraan yang menjadi identitas historis pendidikan SMT Penerbangan. Kekhawatiran para alumni berangkat dari pertanyaan sederhana tetapi strategis, bagaimana mungkin generasi baru dipersiapkan menghadapi perkembangan teknologi penerbangan, aviasi, avionik, drone, unmanned aircraft system, artificial intelligence, advanced air mobility hingga urban air mobility apabila ekosistem pendidikannya tidak cukup kuat menghadirkan pengalaman, kompetensi dan wawasan langsung dari dunia kedirgantaraan.

Secara historis, sekolah yang dikenal sebagai STM/SMT Penerbangan memiliki akar kuat dalam pendidikan teknologi pesawat udara. Dokumentasi resmi SMKN 29 Jakarta menyebut sekolah tersebut didirikan di ruang hanggar Pesawat Udara Kemayoran pada Agustus 1953 dan dikenal sebagai STM Penerbangan, sebelum berpindah ke Kebayoran Baru pada 1958. Sementara publikasi Direktorat Pendidikan Vokasi juga mencatat keberadaan STM Penerbangan di hanggar Kemayoran pada periode 1953–1958. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi pendidikan penerbangan Jakarta sejak awal tidak lahir sebagai pendidikan teknik umum semata, melainkan memiliki kedekatan historis dengan lingkungan pesawat udara dan teknologi penerbangan. Karena itu, para alumni dalam reuni lintas generasi memandang identitas kedirgantaraan tersebut perlu terus dipelihara, diperkuat dan disesuaikan dengan perubahan teknologi, bukan sekadar dijadikan memorabilia sejarah.

Menurut pandangan yang mengemuka dalam reuni, pada masa awal perkembangannya SMT Penerbangan memiliki hubungan erat dengan tenaga pendidik yang memahami dunia penerbangan secara langsung, termasuk unsur TNI Angkatan Udara, praktisi penerbangan, teknisi, serta tenaga profesional yang memiliki disiplin ilmu dan pengalaman kedirgantaraan. Tradisi tersebut dianggap membentuk karakter pendidikan yang berbeda karena peserta didik tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan perspektif mengenai pesawat, mesin, struktur, kelistrikan, avionik, keselamatan penerbangan, kedisiplinan dan budaya kerja industri penerbangan. Kehadiran praktisi menjadi jembatan antara teori dengan kenyataan lapangan. Dalam konteks pendidikan vokasi modern, kedekatan dengan industri juga tetap menjadi unsur penting karena kompetensi lulusan harus relevan dengan perkembangan pekerjaan dan teknologi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana tradisi tersebut dapat dihidupkan kembali dalam format yang sesuai dengan kebutuhan industri kedirgantaraan abad ke-21.

Fenomena yang dibicarakan alumni menjadi semakin penting ketika dunia penerbangan bergerak menuju teknologi yang jauh lebih kompleks. Pesawat modern tidak lagi dapat dipahami hanya melalui mekanika konvensional. Avionik digital, fly-by-wire, sensor, artificial intelligence, autonomous systems, unmanned aircraft, simulator, digital twin, advanced materials, cybersecurity, satellite navigation dan sistem komunikasi telah menjadi bagian dari ekosistem teknologi udara. Pada saat bersamaan, perkembangan drone dan urban air mobility membuka ruang baru yang mempertemukan teknologi penerbangan dengan kecerdasan buatan, robotika, energi, telekomunikasi dan sistem transportasi perkotaan. Dalam situasi seperti itu, alumni mempertanyakan apakah pendidikan penerbangan dapat berkembang maksimal apabila hubungan antara sekolah, perguruan tinggi, industri, regulator, TNI AU dan para profesional kedirgantaraan tidak dibangun sebagai sebuah ekosistem pengetahuan yang berkelanjutan.

Yang menjadi perhatian bukan semata-mata soal siapa yang mengajar, melainkan apa kompetensi dan pengalaman yang dibawa ke ruang kelas. Seorang tenaga pendidik dapat memiliki kemampuan pedagogis yang sangat baik, namun pendidikan teknologi penerbangan juga membutuhkan penguasaan substansi teknis yang terus diperbarui. Demikian pula sebaliknya, seorang praktisi penerbangan memiliki pengalaman lapangan yang kaya, tetapi perlu didukung kemampuan pedagogis agar pengalaman tersebut dapat ditransformasikan menjadi pembelajaran yang sistematis. Karena itu, gagasan yang muncul dari reuni bukan sekadar mengganti tenaga pengajar, melainkan membangun model kolaboratif: guru tetap diperkuat, praktisi penerbangan dilibatkan, akademisi kedirgantaraan hadir, industri menjadi mitra pembelajaran, dan alumni yang memiliki pengalaman profesional diberi ruang untuk mentransfer pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Reuni tersebut juga membawa persoalan ini keluar dari nostalgia dan menempatkannya sebagai agenda pendidikan yang perlu dibicarakan bersama. Para alumni berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlanjutan pendidikan vokasi kedirgantaraan, terutama karena kebutuhan sumber daya manusia penerbangan akan terus berkembang sejalan dengan transformasi teknologi. Di sisi lain, alumni tidak ingin seluruh tanggung jawab diletakkan pada pemerintah. Jejaring alumni SMT Penerbangan memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pengetahuan, mentor, instruktur tamu, penghubung industri, penyedia pengalaman praktik, bahkan penggerak inovasi. Dengan jumlah generasi alumni yang telah melewati puluhan tahun perjalanan profesi, sebenarnya terdapat modal pengetahuan yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana modal pengalaman tersebut diorganisasi menjadi sistem pembelajaran yang terukur dan dapat memberikan manfaat langsung kepada peserta didik.

Pendidikan penerbangan juga membutuhkan keberanian untuk melihat masa depan, bukan hanya mempertahankan romantisme masa lalu. Jika pada dekade awal peserta didik belajar mengenai mesin piston, struktur pesawat, radio dan sistem kelistrikan, maka generasi sekarang harus dipersiapkan memahami avionik generasi baru, unmanned aviation, artificial intelligence, data analytics, robotics, autonomous flight, cybersecurity, sustainable aviation dan teknologi urban air mobility. Perubahan tersebut tidak berarti meninggalkan fondasi lama. Justru fondasi mekanika, listrik, elektronika, aerodinamika dan disiplin keselamatan penerbangan harus menjadi dasar untuk memahami teknologi baru. Dengan demikian, modernisasi pendidikan bukan penghapusan sejarah, melainkan pengembangan kompetensi agar warisan pendidikan penerbangan tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

Reuni SMT Penerbangan lintas generasi akhirnya melahirkan sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan alumni: 73 tahun perjalanan pendidikan penerbangan harus menjadi momentum evaluasi dan kebangkitan kembali ekosistem keilmuan kedirgantaraan. Pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, industri penerbangan, TNI AU, regulator, praktisi dan alumni dapat duduk bersama merumuskan peta jalan pendidikan kedirgantaraan yang relevan dengan kebutuhan Indonesia. Alumni SMT Penerbangan tidak hanya memiliki nostalgia terhadap masa lalu, tetapi juga memiliki pengalaman yang dapat menjadi jembatan menuju masa depan. Dari hanggar Kemayoran, dari ruang-ruang kelas generasi terdahulu, hingga era drone, AI dan urban air mobility, pertanyaannya kini bukan sekadar bagaimana mempertahankan nama SMT Penerbangan, tetapi bagaimana memastikan jiwa kedirgantaraan tetap hidup dalam pengetahuan, tenaga pendidik, kurikulum, laboratorium dan masa depan setiap anak didiknya.

(Hasan Himmah)